Menurut Bloomberg, ekonomi global akan berjuang mengatasi kenaikan inflasi dan resesi. Para ekonom percaya bahwa tantangan ini bisa memiliki dampak negatif yang besar pada ekonomi global. Banyak analis khawatir bahwa negara ini mungkin tidak mampu menghadapi ancaman yang telah ada seperti kemerosotan ekonomi dan lonjakan inflasi. Dengan latar belakang ini, tingkat pertumbuhan dari PDB global pada 2024 bisa melemah. Jamie Dimon, CEO dari bank Amerika, JPMorgan Chase, mengatakan bahwa otoritas moneter bergantung pada prakiraan yang "100% sangat keliru." Dimon menegaskan bahwa menghentikan pengetatan kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga utama Federal Reserve merupakan tantangan tersendiri. Rasa pesimis dari analis JPMorgan Chase digemakan oleh Ray Dalio, CEO dan pendiri dari Bridgewater Associates, yang memprediksi perlambatan dalam tingkat pertumbuhan PDB global pada tahun 2024. Menurut Dalio, perlambatan ini akibat dari meningkatnya volume utang nasional, serta masalah geopolitik. Meski demikian, pimpinan dari Bridgewater Associates tersebut yakin bahwa otoritas moneter akan mencapai terobosan yang dibutuhkan oleh perekonomian global. Para analis berpendapat bahwa bank sentral di berbagai negara saat ini menghadapi tugas berat untuk menstabilkan perekonomian mereka. Tujuan utama mereka adalah meminimalkan faktor-faktor yang merugikan. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), dalam skenario pembangunan negatif, total kerusakan akibat fragmentasi ekonomi global dapat mengurangi PDB global sebesar 7%. IMF mengakui bahwa integrasi hubungan ekonomi, yang relevan pada paruh kedua abad ke-20, mungkin akan dipertimbangkan kembali karena meningkatnya konflik geopolitik.