Business Insider melaporkan bahwa People’s Bank of China aktif mendukung langkah de-dolarisasi di Afrika. Pihak berwenang di negara tersebut mendorong agar yuan digunakan sebagai pengganti greenback, terutama dalam hubungan dagang dengan Zambia, produsen tembaga utama.
Ini adalah manuver yang cerdik. Tidak ada yang dapat membayangkan bagaimana kondisi ini akan berkembang jika negara-negara Afrika menerima yuan Tiongkok.
Saat ini, Zambia merupakan produsen tembaga terbesar kedua di Afrika, sedangkan Tiongkok merupakan konsumen terbesar logam tersebut di dunia. Jadi, tembaga menyumbang 70% pendapatan ekspor luar negeri Zambia. Perekonomian Zambia menderita akibat pandemi virus corona dan inflasi yang tinggi. Dengan latar belakang ini, kwacha, mata uang nasional Zambia, turun ke rekor terendah pada tahun 2023. Namun, Tiongkok membantu negara tersebut mencapai kesepakatan untuk merestrukturisasi utang kepada pemerintah asing sebesar $6,3 miliar.
Anehnya, Bank of China berkantor di Zambia. Ini adalah satu-satunya bank Tiongkok di Zambia yang berfungsi sebagai fasilitas kliring. “Kami akan sungguh-sungguh menjalankan tanggung jawab kami dan memanfaatkan peran kami di Zambia untuk mendukung negara-negara Afrika lainnya dalam menyediakan layanan dan produk holistik terkait RMB dan untuk mempromosikan penggunaan RMB dalam perdagangan bilateral dan aktivitas ekonomi,” ujar Lin Jingzhen, wakil presiden bank tersebut.