Pertumbuhan perekonomian Indonesia melemah ke level terendah dalam dua tahun pada kuartal ketiga karena menurunnya belanja pemerintah dan ekspor, data resmi mengungkapkan pada hari Senin.
Produk domestik bruto tumbuh 4,94 persen YOY pada kuartal ketiga tetapi lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,17 persen yang tercatat pada kuartal kedua, menurut laporan Badan Pusat Statistik.
Pertumbuhan ini merupakan yang terlemah sejak Q3 tahun 2021 dan juga di bawah perkiraan para ekonom sebesar 5,05 persen. Secara kuartal, perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini naik 1,6 persen. Pertumbuhan berurutan terlihat mencapai 1,71 persen.
Perincian sisi pengeluaran menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi memberikan kontribusi peningkatan, sedangkan belanja pemerintah dan ekspor memberikan kontributor negatif terhadap pertumbuhan PDB.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen, sedangkan konsumsi pemerintah turun 3,76 persen. Pembentukan modal tetap bruto mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 5,77 persen. Untuk mengimbangi sebagian kenaikan ini, ekspor turun 4,26 persen dan impor turun 6,18 persen.
Gareth Leather, ekonom Capital Economics, menyatakan bahwa kinerja perekonomian lebih buruk dari yang ditunjukkan oleh data resmi.
Meskipun siklus pengetatan Bank Indonesia mungkin sudah berakhir, kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah berarti risikonya cenderung mengarah pada pengetatan lebih lanjut, jelas ekonom tersebut. Pemotongan suku bunga masih jauh, jelasnya.
Pada bulan Oktober, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan reverse repo tujuh hari sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen. BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 250 bps dalam siklus pengetatan terbaru yang dimulai pada Agustus 2022.