Pertumbuhan ekonomi Thailand tidak terduga melemah di kuartal ketiga terkait pengeluaran pemerintah yang turun dan ekspor lebih lemah, Office of the National Economic and Social Development Council mengatakan hari Senin. Produk domestik bruto naik 1,5 persen per tahun setelah naik 1,8 persen pada kuartal kedua. Pertumbuhan suku bunga diperkirakan akan meningkat menjadi 2,4 persen.
Pertumbuhan PDB per kuartal melaju menjadi 0,8 persen dari 0,2 persen pada tiga bulan sebelumnya. Meski demikian, ini lebih lemah dari prakiraan ekonom dari ekspansi 1,2 persen.
Pengeluaran rumah tangga dan investasi berkontribusi dengan positif pada sisi pengeluaran, sementara itu konsumsi pemerintah bertindak sebagai sebuah hambatan.
Dalam sektor eksternal, ekspor melambat, sedangkan impor mencatat penurunan berturut-turut.
Pertumbuhan konsumsi swasta meningkat menjadi 8,1 persen dari 7,8 persen, dikendalikan oleh kenaikan tegas dalam jumlah wisatawan dalam dan luar negeri.
Pertumbuhan dalam formasi modal tetap bruto naik menjadi 1,5 persen dari 0,4 persen. Peningkatan ini menunjukkan investasi swasta yang kuat dalam konstruksi dan mesin.
Sebaliknya, pengeluaran pemerintah turun 4,9 persen setelah penurunan 4,3 persen.
Penurunan ini akibat dari bantuan sosial dalam bentuk barang - produksi pasar yang dibeli anjlok 38,6 persen, terutama disebabkan oleh belanja layanan kesehatan untuk COVID-19.
Ekspor naik hanya 0,2 persen, menyusul kenaikan 0,6 persen. Pada saat yang sama, impor turun pada laju lebih cepat dari 10,2 persen setelah penurunan 2,3 persen satu kuartal lalu.
Pemerintah memperkirakan ekonomi akan naik 2,5 persen di 2023, setelah naik 2,6 persen pada 2022.
Pada 2024, pertumbuhan terlihat dalam kisaran 2,7 persen menjadi 3,7 persen.
Inflasi acuan diperkirakan ada dalam ksiaran 1,7 - 2,7 persen dan akun lancar diperkirakan akan mencatat surplus 1,5 persen dari PDB.
Ekonom Capital Economics, Gareth Leather mengatakan perekonomian kemungkinan akna mencatat pertumbuhan stabil, jika pertumbuhan tidak spektakuler dalam kuartal mendatang, didukung oleh kebijakan fiskal yang longgar dan pemulihan lebih lanjutu dalam sektor pariwisata.