Bank sentral Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada hari Kamis setelah kenaikan seperempat poin yang tidak terduga pada bulan Oktober untuk menahan jatuhnya mata uang rupiah.
Dewan Gubernur Bank Indonesia, yang dipimpin oleh Gubernur Perry Warjiyo, memutuskan untuk mempertahankan tujuh hari Reverse Repo Rate sebesar 6,00 persen.
Bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 250 bps dalam siklus pengetatan saat ini yang dimulai pada Agustus 2022.
Deposit Facility Rate dipertahankan di angka 5,25 persen dan Lending Facility Rate di angka 6,75 persen.
Keputusan tersebut tetap konsisten dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak ketidakpastian global yang tinggi, serta sebagai langkah pencegahan dan waspada untuk memitigasi dampak inflasi import, jelas Bank Indonesia dalam pernyataannya.
Dengan pertumbuhan yang cenderung terhambat dan inflasi yang akan tetap lemah, pergerakan suku bunga selanjutnya akan diturunkan, namun hal ini kemungkinan tidak akan terjadi hingga kuartal kedua tahun depan, jelas Gareth Leather, ekonom Capital Economics.
“Dalam beberapa bulan mendatang, BI kemungkinan akan mengawasi mata uang dan dinamika inflasi impor, dengan bank sentral kemungkinan tetap terbuka untuk melakukan pengetatan tambahan jika IDR berada di bawah tekanan besar,” jelas Nicholas Mapa, ekonom ING.
Bank sentral menyatakan akan memperkuat upaya stabilisasi rupiah untuk mengendalikan inflasi impor.
Pada tingkat 2,56 persen, inflasi bulan Oktober masih berada dalam target bank sentral yaitu 2-3 persen. Bank tersebut bertujuan menjaga inflasi dalam kisaran 1,5-3,5 persen tahun depan.
Data resmi menunjukkan bahwa negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini mencatat pertumbuhan terlemahnya dalam dua tahun terakhir pada kuartal ketiga akibat menurunnya belanja pemerintah dan ekspor.
PDB naik 4,94 persen setelah meningkat 5,17 persen pada kuartal kedua.
Bank Indonesia memperkirakan perekonomian akan tumbuh pada kisaran 4,5-5,3 persen di tahun 2023.
Pertumbuhan diperkirakan akan membaik tahun depan didorong oleh kuatnya kepercayaan konsumen dan pengaruh positif dari Pemilihan Umum, jelas bank tersebut.