Euro mengalami penurunan ke $1,15, setelah sebelumnya mencapai puncak tertinggi dalam tiga setengah tahun di $1,163 pada 12 Juni. Penurunan ini terjadi di tengah ketidakstabilan pasar global akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel menargetkan fasilitas nuklir Iran dan tokoh-tokoh kunci, memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas. Israel telah menyatakan ambisi nuklir Iran sebagai ancaman serius bagi keberadaannya dan berkomitmen untuk melanjutkan aksi militernya. Sebagai tanggapan, Iran meluncurkan ratusan drone dan mengancam akan melakukan pembalasan lebih lanjut.
Dari perspektif kebijakan moneter, euro didukung oleh sinyal yang berbeda dari European Central Bank (ECB) dan US Federal Reserve. Pernyataan terbaru dari ECB telah memperkuat keyakinan bahwa mereka mungkin akan menghentikan langkah-langkah pelonggaran untuk mengevaluasi dampak tarif baru AS. Sebaliknya, dolar AS melemah, dipengaruhi oleh data inflasi yang lebih lemah dan meningkatnya ketegangan perdagangan, yang menyebabkan spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin mempertimbangkan pemotongan suku bunga secepatnya pada bulan September.