Rupiah Indonesia melemah ke sekitar IDR 16.720 per dolar pada hari Jumat, menandai dimulainya perdagangan di tahun 2026. Penurunan ini membalikkan keuntungan yang diamati selama tiga sesi sebelumnya dan sejalan dengan kerugian luas di seluruh mata uang Asia. Sentimen pasar tertekan oleh ekspektasi baru untuk suku bunga domestik yang lebih rendah, setelah Bank Indonesia mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Pendekatan ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan setelah bencana akhir November di Sumatra, di tengah kondisi inflasi yang ringan. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga utamanya di 4,75% pada bulan Desember untuk pertemuan ketiga berturut-turut, setelah pengurangan kumulatif sebesar 150 basis poin antara September 2024 dan September 2025. Sepanjang tahun 2025, rupiah terdepresiasi sekitar 4%, menjadikannya salah satu mata uang terlemah di Asia. Perhatian sekarang akan beralih ke data inflasi Desember, yang dijadwalkan rilis minggu depan, karena angka terbaru mendekati level tertinggi 18 bulan, meskipun masih dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5% hingga 3,5%. Secara global, dolar AS melemah ke sekitar 98,2, setelah turun 9% pada tahun 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian seputar tarif, ekspektasi pelonggaran moneter oleh Federal Reserve, dan kekhawatiran fiskal.