Rupiah Indonesia terus melemah untuk sesi kelima berturut-turut pada hari Kamis, mendekati IDR 16.800 per dolar, sebagian besar dipengaruhi oleh indeks dolar yang kuat. Pergerakan ini terjadi karena para pedagang hampir secara bulat memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga saat ini pada pertemuan mendatang, dengan probabilitas mendekati 90%. Meskipun data terbaru menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan pada Desember 2025, dampak positif pada mata uang tersebut sedikit. Pengamat pasar justru lebih fokus pada pandangan dovish Bank Indonesia, bahkan setelah total penurunan 150 basis poin dalam suku bunga antara September 2024 dan September 2025. Selain itu, angka inflasi terbaru menyoroti tekanan biaya yang meningkat setelah bencana besar di Sumatra pada akhir November. Namun, karena pertumbuhan harga tetap dalam kisaran target bank sentral, tampaknya tidak ada kebutuhan mendesak untuk pengetatan moneter. Secara eksternal, tantangan tetap ada karena aktivitas ekspor, terutama pada komoditas utama seperti batu bara, menunjukkan tanda-tanda melambat. Investor kini dengan cermat menantikan rilis indeks sentimen konsumen bulan Desember pada hari Jumat dan data penjualan ritel minggu depan untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut.