Futures minyak sawit Malaysia turun di bawah MYR 4,200 per ton pada hari Jumat, mengakhiri kenaikan selama tiga sesi. Penurunan ini terjadi setelah penguatan ringgit dan investor mengambil keuntungan setelah harga mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu pada sesi sebelumnya. Kontribusi terhadap suasana pasar yang lesu adalah kontrak minyak sawit yang lebih lemah di bursa Dalian serta penurunan harga minyak kedelai di Chicago. Meskipun demikian, pasar masih siap untuk mencapai kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, dengan peningkatan lebih dari 2% sejauh ini. Kenaikan ini didukung oleh perkiraan permintaan yang lebih kuat menjelang Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada bulan Februari, serta pasokan jangka pendek yang lebih ketat, dengan produksi bulan Januari diperkirakan menurun sebesar 15%–17% karena tren musiman. Di sisi permintaan, surveyor kargo menunjukkan kenaikan pengiriman sebesar 8.6%–11.4% dari 1 hingga 20 Januari dibandingkan bulan sebelumnya, menyoroti tanda-tanda peningkatan ekspor. Namun, kekhawatiran pasokan jangka panjang tetap ada karena peraturan yang lebih ketat tentang eksploitasi hutan di Indonesia, pemasok utama. Ke depan, Dewan Minyak Sawit Malaysia memperkirakan bahwa harga akan berfluktuasi dalam kisaran MYR 4,000–4,300 pada bulan Februari.