Saham di Indonesia turun 321 poin, mewakili penurunan sebesar 3,9%, menetap di 8.008 pada Kamis sore. Ini terjadi setelah penurunan awal sebesar 8,0%, yang menyebabkan penangguhan perdagangan sementara selama 30 menit. Penurunan ini dipicu oleh penurunan peringkat dari Goldman Sachs, yang memproyeksikan potensi arus keluar sebesar USD 2,2 miliar, dan diperburuk oleh kekhawatiran MSCI mengenai transparansi. MSCI juga memperingatkan bahwa Jakarta berisiko diturunkan ke status pasar perbatasan jika reformasi terhenti. Menanggapi hal ini, seorang pejabat pemerintah tingkat tinggi meminta bursa saham untuk meningkatkan langkah-langkah transparansi. Meskipun ada upaya ini, sentimen pasar tetap rapuh karena negara ini menghadapi penarikan modal asing yang berkelanjutan, pelemahan rupiah, defisit fiskal yang meningkat, dan ketidakpastian seputar otonomi bank sentral. Namun, ada sedikit peningkatan dalam selera risiko setelah kenaikan dalam futures untuk S&P 500 dan Nasdaq, ditambah dengan keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga dan pengamatan Ketua Powell bahwa prospek ekonomi "jelas membaik." Meskipun kerugian terus berlanjut di beberapa sektor, intensitasnya berkurang. Terutama, saham Aneka Tambang turun 7,2%, Bank Negara turun 3,2%, dan Telkom Indonesia turun 2,0%. Sebaliknya, Bank Rakyat Indonesia mengalami kenaikan moderat sebesar 0,8%, dan Petrindo Jaya Kreasi melonjak 8,7%.