Pada Januari 2026, Indonesia mengalami penurunan cadangan devisa menjadi USD 154,6 miliar, turun dari puncak sembilan bulan sebelumnya sebesar USD 156,5 miliar yang tercatat pada bulan Desember. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh penyelesaian utang luar negeri pemerintah dan langkah-langkah yang diambil oleh Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Meskipun terjadi penurunan ini, tingkat cadangan masih memadai untuk menutupi 6,3 bulan impor, atau 6,1 bulan jika mempertimbangkan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang secara signifikan lebih tinggi dari standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Ke depan, Bank Indonesia tetap optimis terhadap stabilitas sektor eksternal, terutama karena arus masuk investasi asing yang terus berlanjut. Perspektif ini didukung oleh sentimen positif investor terhadap perkiraan ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang terus menarik.