Surplus neraca perdagangan Mongolia melebar tajam hingga mencapai rekor USD 906,5 juta pada Januari 2026, naik dari hanya USD 55 juta pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan ekspor melonjak 71,6% secara tahunan menjadi USD 1.749,4 juta, didorong oleh tingginya permintaan terhadap produk mineral (naik 69,4%), terutama batubara bituminus (naik 39,2%) serta bijih besi dan konsentratnya (naik 19,5%). China tetap menjadi pasar ekspor utama Mongolia dengan menyerap 88,9% dari total ekspor, disusul oleh Switzerland dengan pangsa 7,2%.
Dari sisi impor, total pembelian turun 12,6% menjadi USD 843 juta, mencerminkan penurunan tajam impor kendaraan angkutan dan suku cadangnya (turun 56,5%), serta mesin, peralatan, dan perlengkapan listrik (turun 8,2%). China juga mempertahankan posisinya sebagai mitra impor terbesar Mongolia dengan menyumbang 37,1% dari total impor, diikuti oleh Russia (31,1%) dan Japan (8,9%).