Rupiah Indonesia menguat untuk sesi ketiga berturut-turut pada hari Senin, diperdagangkan di bawah 16.800 per dolar, seiring indeks dolar melemah setelah Mahkamah Agung AS memutuskan untuk membatalkan tarif global Presiden Trump. Meskipun Trump dengan cepat memberlakukan tarif baru sebesar 10%, yang kemudian dinaikkan menjadi 15%, ketidakpastian baru terkait kebijakan perdagangan tersebut hanya memberikan dukungan terbatas bagi dolar AS.
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 4,75% pekan lalu untuk pertemuan kelima secara beruntun, sejalan dengan ekspektasi, setelah sebelumnya memangkas suku bunga sebesar total 150 bps sejak September 2024 di tengah inflasi yang tetap rendah. Para pembuat kebijakan menegaskan kembali bahwa rupiah masih undervalued dan menegaskan kesiapan mereka untuk melakukan intervensi di pasar valas, yang ditopang oleh cadangan devisa yang memadai.
Namun, penguatan rupiah tertahan oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,11% pada 2025, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2%, sementara otoritas di Jakarta menargetkan pertumbuhan 5,4% pada 2026. Sementara itu, transaksi berjalan kembali mencatat defisit pada kuartal IV 2025, menambah tekanan eksternal terhadap rupiah.