Defisit perdagangan Filipina menyempit menjadi USD 4,0 miliar pada Januari 2026 dari USD 4,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya ekspor dan turunnya impor. Ekspor naik 7,9% year-on-year menjadi USD 7,1 miliar, terutama didorong oleh lonjakan kuat pada produk elektronik (+18,8%). Elektronik tetap menjadi komoditas ekspor utama negara tersebut, menyumbang 56,5% dari total pengiriman ke luar negeri. Pertumbuhan ekspor juga ditopang oleh peningkatan tajam pengiriman emas (+263%) serta mesin dan perlengkapan transportasi (+68,4%).
Berdasarkan negara tujuan, Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar bagi Filipina dengan pangsa 16,4% dari total ekspor, diikuti oleh Hong Kong (15,9%), Jepang (12,3%), dan China (9,8%).
Dari sisi impor, total pembelian dari luar negeri turun 3,1% menjadi USD 11,1 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya impor bahan bakar mineral, pelumas, dan bahan terkait (-25%), perlengkapan transportasi (-3,3%), serta mesin dan peralatan industri (-12,2%).
China tetap menjadi sumber impor utama Filipina dengan pangsa 29,2% dari total impor, diikuti oleh Korea Selatan (11,2%), Jepang (8,3%), dan Indonesia (7,1%).