Emas menguat mendekati 1% pada hari Jumat hingga diperdagangkan di atas $5.220 per troy ounce, menguji level tertinggi dua bulan seiring pasar menimbang langkah‑langkah perdagangan AS yang semakin agresif di tengah tekanan inflasi yang terus berlanjut. Logam mulia ini terus menarik arus masuk aset lindung nilai (safe haven) yang kuat setelah pemerintah menerapkan Section 122 untuk mengenakan tarif global sebesar 10%, dengan U.S. Trade Representative Jamieson Greer mengindikasikan bahwa bea tersebut dapat dinaikkan menjadi 15% menyusul putusan terbaru Mahkamah Agung. Pergeseran proteksionis ini—ditambah dengan mandeknya negosiasi nuklir AS–Iran di Jenewa dan laporan adanya imbauan keberangkatan dari Kedutaan Besar AS di Israel—secara signifikan telah memperkuat peran emas sebagai lindung nilai terhadap risiko sistemik.
Dari sisi data, core producer prices untuk Januari naik 0,8%, kenaikan bulanan terdalam sejak pertengahan 2025. Meskipun data yang lebih kuat dari perkiraan tersebut menguatkan U.S. Dollar dan mendorong ekspektasi pasar untuk penurunan suku bunga pertama Federal Reserve yang sepenuhnya diperhitungkan mundur ke bulan Juli, harga emas tetap menunjukkan ketahanan yang menonjol. Dukungan tambahan datang dari rotasi yang jelas dari saham‑saham berorientasi AI menuju U.S. Treasuries berdurasi panjang, yang mendorong imbal hasil tenor 10 tahun turun ke titik terendah dalam empat bulan dan semakin menopang harga bullion.