Ekspor Indonesia meningkat 3,39% secara tahunan (year-on-year) menjadi USD 22,16 miliar pada Januari 2026, merupakan pertumbuhan terlemah dalam sembilan bulan terakhir. Kinerja ini menandai perlambatan tajam dari kenaikan 11,64% yang tercatat pada Desember, yang merupakan level tertinggi dalam sepuluh bulan, dan jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 11,07%.
Ekspor nonmigas naik 4,38% menjadi USD 21,26 miliar, terutama didorong oleh peningkatan kuat pada lemak dan minyak hewani serta nabati (46,05%), nikel dan produk berbasis nikel (42,04%), serta mesin dan peralatan listrik, termasuk suku cadangnya (16,27%). Kenaikan ini terjadi meskipun terdapat penurunan signifikan pada ekspor bahan bakar mineral yang turun 11,85%.
Sebaliknya, ekspor migas anjlok 15,62% menjadi USD 0,89 miliar, tertekan oleh penurunan tajam pengapalan gas alam (-19,95%) dan ekspor minyak mentah yang turun hingga nol. Kenaikan 5,76% pada ekspor produk minyak hasil olahan tidak cukup untuk menutup penurunan tersebut.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas terutama dikirim ke China (USD 5,27 miliar), Amerika Serikat (USD 2,51 miliar), dan India (USD 1,52 miliar). Secara keseluruhan, tiga pasar ini menyumbang 43,77% dari total ekspor Indonesia.