Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali naik ke 4,16% pada hari Jumat, setelah sebelumnya sempat melemah. Pergerakan ini mencerminkan kembali menguatnya kekhawatiran akan spiral inflasi yang dipicu kenaikan tajam harga energi—khususnya minyak—yang mengimbangi efek pelemahan dari data tenaga kerja AS yang lebih lemah.
Kontrak berjangka WTI crude mendekati $88 per barel, level tertinggi sejak September 2023, setelah President Trump menuntut Iran untuk menyerah sementara perang dengan Republik Islam itu memasuki hari ketujuh, sehingga memperparah gangguan di pasar energi global. Kuwait telah mulai memangkas produksi di beberapa ladang minyak, dan Qatar memperingatkan bahwa eksportir energi di kawasan Teluk bisa terpaksa menghentikan produksi dalam hitungan minggu.
Dari sisi makroekonomi, ekonomi AS secara tak terduga kehilangan 92.000 pekerjaan pada bulan lalu, dan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%. Penjualan ritel AS juga turun pada Januari, sebagian karena pelemahan pembelian kendaraan.
Menanggapi hal tersebut, pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga pada bulan Juli. Pasar saat ini memperhitungkan kemungkinan yang hampir seimbang bahwa para pembuat kebijakan akan melakukan pemangkasan suku bunga kedua atau melakukan jeda hingga Desember.