Kontrak berjangka bensin melonjak 10% hingga menembus $3 per galon pada hari Senin, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022, seiring memanasnya konflik di Timur Tengah dan meningkatnya gangguan pasokan di kawasan tersebut yang mendorong harga minyak naik di atas $100 per barel. Produsen utama di Teluk memangkas produksi, sementara pengiriman melalui Selat Hormuz yang strategis praktis terhenti akibat perang yang melibatkan Iran. Konflik ini kini memasuki minggu kedua tanpa tanda-tanda akan segera berakhir: Iran terus melancarkan serangan ke negara-negara tetangga di kawasan tersebut, sementara Israel telah menghantam depo bahan bakar di Iran dan mengancam jaringan listrik negara itu. Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, yang memberi sinyal bahwa deeskalasi dalam waktu dekat kecil kemungkinan terjadi dan pembatasan pasokan global akan berlanjut. Menambah tekanan, data EIA menunjukkan penarikan mingguan ketiga berturut-turut sebesar 1,7 juta barel dari persediaan bensin AS, pengetatan yang semakin diperkuat oleh arahan China kepada perusahaan penyuling besar untuk memprioritaskan pasokan dalam negeri.