Indeks S&P/ASX 200 Australia merosot 3,3% ke 8.557 pada hari Senin, memperdalam pelemahan minggu lalu dan mencatat penutupan terendah sejak Desember 2025. Penurunan ini terjadi seiring memanasnya ketegangan dalam konflik AS–Israel dengan Iran yang melemahkan sentimen risiko global dan meningkatkan kekhawatiran atas kenaikan harga minyak serta inflasi. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz — jalur kritis bagi pengiriman minyak global — berpotensi menimbulkan tantangan pasokan bahan bakar bagi Australia. Menteri Energi Chris Bowen menyatakan bahwa cadangan bahan bakar negara saat ini hanya mencukupi untuk 36 hari bensin, 34 hari solar, dan 32 hari bahan bakar pesawat, jauh di bawah rekomendasi 90 hari dari International Energy Agency. Pada saat yang sama, Gubernur RBA Michele Bullock memperingatkan bahwa kenaikan biaya energi dapat mengacaukan ekspektasi inflasi dan berpotensi memerlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Saham pertambangan memimpin aksi jual, dengan BHP Group, Rio Tinto, dan Fortescue melemah antara 2,9% hingga 5,4%, sementara bank-bank besar CBA, NAB, Westpac, dan ANZ Group turun 3,1% hingga 3,9%.