Surplus neraca berjalan Jepang melonjak menjadi JPY 942,6 miliar pada Januari 2026, naik dari JPY 344,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar JPY 960 miliar. Perbaikan keseluruhan ini terutama didorong oleh penyusutan signifikan pada defisit neraca barang, yang menyempit menjadi JPY 600,4 miliar dari JPY 2.934,0 miliar. Perubahan ini mencerminkan lonjakan ekspor sebesar 20,5% bersamaan dengan penurunan impor sebesar 7,7%, yang ditopang oleh biaya impor energi yang lebih rendah dan permintaan eksternal yang tetap tangguh.
Komponen lain dari neraca berjalan kurang mendukung. Surplus pendapatan primer, yang sebagian besar terdiri atas imbal hasil dari investasi luar negeri, turun menjadi JPY 2.746,6 miliar dari JPY 3.520,0 miliar. Defisit pendapatan sekunder melebar secara moderat, menjadi JPY 489,3 miliar dari JPY 440,8 miliar. Pada saat yang sama, defisit neraca jasa meningkat tajam menjadi JPY 715,3 miliar dari JPY 498,8 miliar, sebagian disebabkan oleh peningkatan perjalanan ke luar negeri dan pembayaran yang lebih tinggi untuk jasa asing.