Euro melemah ke sekitar $1,152 pada hari Senin, memperpanjang penurunan dari pekan sebelumnya dan mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan, seiring investor beralih ke aset aman berupa dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik yang kini memasuki pekan kedua belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Presiden AS Donald Trump menuntut penyerahan tanpa syarat dari Teheran. Kenaikan harga minyak dan gas semakin menambah kekhawatiran, meskipun Trump berjanji akan menjaga keamanan kapal tanker di Selat Hormuz yang strategis. Lonjakan biaya energi tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai inflasi zona euro, yang bisa naik di atas target 2% European Central Bank jika tekanan harga terus berlanjut. Anggota Dewan Eksekutif ECB, Isabel Schnabel, mencatat bahwa meskipun inflasi diperkirakan akan rata-rata berada di 2% dalam jangka menengah, bank sentral “tidak bisa bersikap lengah.” Ia menekankan perlunya memantau secara cermat berapa lama guncangan harga energi bertahan, dampaknya terhadap ekspektasi inflasi, dan sejauh mana perusahaan meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.