Won Korea Selatan melemah menembus 1.500 per dolar AS, memperpanjang penurunannya ke level terendah sejak awal 2009, seiring lonjakan harga minyak dan sentimen risk-off yang meluas menekan mata uang tersebut. Harga minyak mentah naik menembus $100 per barel, dengan West Texas Intermediate dan Brent crude sama-sama menguat tajam setelah eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan meningkatnya risiko pengiriman melalui Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak tersebut semakin menambah tekanan pada won, mengingat ketergantungan Korea Selatan yang tinggi pada energi impor, sehingga memperbesar kekhawatiran atas kenaikan biaya impor, meningkatnya tekanan inflasi, dan potensi memburuknya neraca perdagangan negara tersebut. Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS menguat karena investor beralih ke aset safe haven, yang memperdalam pelemahan mata uang di kawasan. Indeks KOSPI juga merosot hingga sempat memicu pembatasan perdagangan, sementara investor asing terus melepas saham Korea di tengah ketidakpastian yang meningkat.