Kontrak berjangka minyak kelapa sawit Malaysia turun sekitar 2% ke bawah MYR 4.500 per ton pada hari Selasa, menghapus kenaikan sesi sebelumnya yang sempat mendorong harga ke level tertinggi sejak pertengahan Desember 2024. Koreksi ini terutama dikaitkan dengan aksi ambil untung setelah reli tajam sebelumnya, dengan tekanan tambahan dari pelemahan harga minyak nabati di Dalian dan Chicago, penguatan ringgit, serta penurunan harga minyak mentah.
Data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan bahwa ekspor bulan Februari turun 22,5% secara bulanan, meskipun ada permintaan restocking menjelang Idulfitri. Namun, tekanan penurunan harga sebagian tertahan oleh data perdagangan Tiongkok yang kuat: baik ekspor maupun impor melampaui ekspektasi dalam dua bulan pertama 2026, menandakan permintaan yang tetap tangguh.
Di Indonesia, pemasok minyak kelapa sawit terbesar di dunia, pejabat berwenang tengah mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali rencana mandat biodiesel B50 pada pertengahan tahun, didukung oleh harga minyak mentah yang tinggi. Secara terpisah, data MPOB menunjukkan bahwa persediaan minyak kelapa sawit Malaysia turun 3,9% pada Februari ke posisi terendah empat bulan di 2,70 juta ton, sementara produksi crude palm oil anjlok 18,6% menjadi 1,28 juta ton.