Dolar Selandia Baru naik tipis ke sekitar $0,593, bertahan di dekat level tertinggi satu minggu, seiring para investor menilai kembali prospek kebijakan Reserve Bank di tengah meningkatnya risiko inflasi global. Lonjakan harga minyak baru-baru ini, yang didorong oleh konflik yang berlangsung di Timur Tengah, telah meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi bisa menguat. Analis memperingatkan bahwa inflasi di Selandia Baru mungkin tidak mereda sejauh yang diperkirakan RBNZ, sehingga memicu spekulasi bahwa pengetatan kebijakan moneter bisa dimajukan. Pasar keuangan saat ini hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September, serta memberikan probabilitas lebih dari 70% untuk satu kenaikan tambahan pada bulan Desember. Hal ini menandai pergeseran yang signifikan dari proyeksi terbaru bank sentral, yang bahkan belum sepenuhnya berkomitmen pada satu kali kenaikan suku bunga pun tahun ini. Sementara itu, pernyataan Presiden Donald Trump awal pekan ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar, setelah ia menggambarkan perang Iran sebagai “short-term excursion” yang dapat berakhir sangat segera.