Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia melemah sekitar 1% hingga turun di bawah MYR 4.650 per ton pada hari Selasa, mengakhiri reli empat sesi berturut‑turut seiring penguatan ringgit dan pelemahan harga minyak nabati di bursa Dalian yang menekan pasar. Sentimen makin terganggu setelah Presiden AS Trump menyatakan berencana menunda kunjungannya ke China yang dijadwalkan akhir Maret sekitar satu bulan karena perang di Iran. Meski demikian, penurunan tertahan oleh reli harga minyak mentah yang didorong meningkatnya risiko geopolitik.
Dari sisi permintaan, ekspor tetap kuat. Lembaga survei kargo melaporkan bahwa pengapalan produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1–15 Maret melonjak 43,5%–56,9% secara bulanan, didukung oleh pembelian menjelang Ramadan dan Idulfitri. Di India, konsumen terbesar dunia, impor minyak sawit naik 11% pada Februari ke level tertinggi enam bulan karena diskon yang menarik dibandingkan minyak nabati pesaing mendorong produsen penyulingan meningkatkan pembelian. Sementara itu, produsen utama Indonesia dilaporkan tengah mempertimbangkan pajak baru atas komoditas, termasuk minyak sawit, untuk membantu meredakan tekanan fiskal akibat tingginya harga minyak global, sebuah langkah yang berpotensi makin memperketat pasokan dunia.