Imbal hasil obligasi 10 tahun Afrika Selatan kembali naik di atas 8,50%, berbalik arah dari level terendah satu bulan di 8,40% yang tercapai pada 10 April, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gagalnya pembicaraan damai AS–Iran dan perintah Presiden Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz. Langkah ini memicu lonjakan baru harga minyak mentah, kembali menyalakan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.
Afrika Selatan sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak di tengah konflik yang berkepanjangan, karena biaya energi yang lebih tinggi langsung mendorong inflasi. Selain itu, ketergantungan besar negara tersebut pada impor pupuk membuat sektor pertaniannya terekspos terhadap guncangan harga global, sehingga meningkatkan risiko terhadap harga pangan dan tekanan biaya hidup secara keseluruhan.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat mendorong inflasi menembus 4% pada kuartal kedua 2026, sehingga merusak kemajuan yang telah dicapai menuju target 3% yang ditetapkan South African Reserve Bank. Pergeseran dalam prospek inflasi ini dapat memaksa bank sentral—yang sebelumnya diperkirakan mulai memangkas suku bunga pada 2026—untuk meninjau kembali jalur kebijakannya, dengan ekspektasi pasar kini bergeser ke arah kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.