Rupiah Indonesia melemah menuju IDR 17.940 per dolar pada hari Rabu, memperpanjang tren pelemahan selama tiga hari seiring penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.
Dari dalam negeri, sentimen tertekan setelah Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei, yang merupakan defisit pertama sejak April 2020, karena ekspor turun secara tak terduga sementara impor terus tumbuh dengan laju dua digit, sehingga mengikis dukungan dari keseimbangan eksternal. Tekanan tambahan muncul dari data yang menunjukkan aktivitas pabrik berkontraksi dengan laju tercepat dalam setahun pada Juni, menyoroti lemahnya daya beli dan berlanjutnya tekanan biaya.
Kendati demikian, pelemahan rupiah sebagian tertahan oleh aliran masuk dana asing yang stabil ke obligasi pemerintah dan surat berharga Bank Indonesia sepanjang Juni, harga minyak yang lebih rendah yang meredakan tekanan fiskal, serta upaya pemangkasan alokasi anggaran untuk program unggulan Presiden Prabowo. Sementara itu, inflasi tahunan naik ke level tertinggi dalam tiga bulan pada Juni, didorong oleh tingginya harga pangan, namun tetap berada di kisaran atas target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%.