Rupiah Indonesia melemah menembus IDR 18.100 per dolar AS pada hari Senin, memperpanjang pelemahan untuk sesi kedua berturut-turut seiring meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dan memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya energi. Di dalam negeri, sentimen memburuk karena adanya tanda-tanda bahwa momentum ekonomi mungkin melemah pada kuartal kedua dan dapat tetap lesu dalam beberapa bulan mendatang. Indeks kepercayaan konsumen turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juni, sementara penjualan ritel pada Mei mencatat penurunan terdalam dalam tiga tahun, yang mengindikasikan melemahnya belanja rumah tangga setelah kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.
Inversi kembali kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia semakin menegaskan kekhawatiran atas prospek ekonomi negara tersebut. Meski demikian, tekanan pelemahan rupiah sebagian tertahan oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia secara kumulatif sebesar 100 basis poin antara Mei dan Juni. Pada saat yang sama, langkah pemerintah untuk memperkuat pasokan pangan dan meredam dampak El Niño membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi pangan.