Harga minyak mentah naik menembus $82 per barel pada hari Jumat, menguat lebih dari 5% sepanjang pekan seiring Amerika Serikat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan Washington akan menerapkan langkah-langkah ekonomi yang belum pernah dilakukan sebelumnya sambil mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan tindakan lebih lanjut yang diperkirakan akan diumumkan pekan depan. Sementara itu, International Energy Agency memperingatkan terjadinya defisit pasokan global yang lebih dalam, dengan proyeksi bahwa tahun 2026 akan mengalami defisit terbesar dalam lima tahun terakhir.
Upaya diplomatik menemui jalan buntu, dengan Iran dan Oman masih belum berhasil mencapai kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut, meskipun sebelumnya sempat ada optimisme bahwa kesepakatan sudah dekat. Pejabat AS menyatakan bahwa pasukan Amerika meningkatkan kapasitas mereka untuk mengawal kapal-kapal niaga yang melintasi Hormuz, meski perjalanan tetap berisiko, dan beberapa kapal tanker mulai mematikan transponder mereka. Di Laut Merah, militan Houthi yang didukung Iran menargetkan kilang Jazan milik Saudi Arabia, menambah ketegangan di kawasan. Pada saat yang sama, tambahan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah diperkirakan akan mengalir ke AS, memberikan sedikit kelegaan bagi persediaan yang menipis.