Defisit perdagangan Filipina melebar menjadi USD 6,0 miliar pada Juli 2026, naik dari USD 4,4 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Impor meningkat 19,8% secara tahunan (year-on-year) menjadi USD 14,1 miliar, terutama didorong oleh lonjakan 61,3% dalam pembelian produk elektronik, khususnya semikonduktor yang melonjak 79%. Volume impor juga naik untuk bahan bakar mineral, pelumas, dan bahan terkait (+34,8%), serta sereal dan olahan sereal (+50,1%).
Tiongkok tetap menjadi sumber impor utama negara tersebut, menyumbang 29,5% dari total impor, disusul oleh Korea Selatan (12,7%), Jepang (7,9%), dan Indonesia (5,7%).
Di sisi ekspor, pengapalan tumbuh dengan laju yang lebih moderat sebesar 10,8%, mencapai USD 8,1 miliar. Ekspansi ini ditopang oleh peningkatan ekspor produk elektronik (+22,2%), mesin dan peralatan transportasi (+16,6%), serta emas (+29,3%). Amerika Serikat mempertahankan posisinya sebagai pasar ekspor terbesar bagi Filipina, menyerap 20,7% dari total ekspor, diikuti oleh Hong Kong (15,9%), Tiongkok (11,3%), dan Jepang (10,5%).
Untuk periode Januari–Juli, defisit perdagangan kumulatif melebar menjadi USD 37,3 miliar, dibandingkan dengan USD 28,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.