Indonesia mengalami percepatan yang signifikan dan tidak terduga dalam inflasi harga konsumen pada bulan Maret, mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan, seperti yang terungkap oleh data terbaru dari lembaga statistik negara tersebut.
Pada bulan Maret, indeks harga konsumen naik sebesar 3.05 persen dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu, yang merupakan kenaikan yang lebih cepat dari 2.75 persen pada bulan Februari. Diperkirakan bahwa inflasi akan naik menjadi 2.91 persen, oleh karena itu, kenaikan sesungguhnya melampaui harapan. Terakhir kali tingkat inflasi mencapai level tertinggi seperti ini adalah pada bulan Agustus 2023, di mana harga naik sebesar 3.27 persen.
Meskipun percepatan terbaru ini, tingkat inflasi secara konsisten tetap berada dalam kisaran target bank sentral yaitu 2-4 persen. Tingkat inflasi inti, yang tidak termasuk item-item yang volatile seperti harga bahan bakar dan makanan, juga naik sedikit menjadi 1.77 persen di bulan Maret dari 1.68 persen sebulan sebelumnya. Tingkat pertumbuhan ini melampaui perkiraan para ekonom sebesar 1.70 persen.
Item makanan menyaksikan percepatan yang signifikan dalam pertumbuhan harga tahunan, naik dari 6.36 persen menjadi 7.43 persen. Selain itu, biaya utilitas lebih tinggi sebesar 0.55 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan biaya transportasi meningkat sebesar 0.99 persen.
Dalam hal perubahan bulan ke bulan, harga konsumen naik sebesar 0.52 persen pada bulan Maret, kenaikan yang lebih tinggi dari yang diproyeksikan sebesar 0.39 persen. Indeks harga konsumen inti tumbuh sedikit sebesar 0.23 persen.
Selain itu, data resmi juga menyoroti peningkatan signifikan dalam kedatangan turis asing di Indonesia. Pada bulan Februari, terjadi lonjakan tahunan sebesar 38.24 persen, dan kenaikan bulanan sebesar 11.67 persen, jumlahnya mencapai total 1.04 juta pengunjung.