
Pasangan GBP/JPY saat ini diperdagangkan di bawah angka psikologis 213,00, menandakan ketidakberanian untuk bergerak ke bawah, namun belum juga menunjukkan momentum naik yang lebih kuat, karena para pelaku pasar masih menanti keluarnya data PMI Inggris. Indikator bulanan ini akan menyajikan informasi terbaru mengenai kegiatan bisnis di sektor manufaktur serta jasa, sehingga memungkinkan para investor mengevaluasi keadaan ekonomi di tengah risiko gangguan rantai pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Akhirnya, ini akan berpengaruh besar pada gerakan pound sterling dan menciptakan peluang perdagangan jangka pendek untuk pasangan GBP/JPY.
Sementara itu, sikap hawkish dari Bank of England—yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada bulan April di tengah risiko inflasi karena konflik dengan Iran—memberikan dukungan bagi pound.
Di sisi lain, yen Jepang mengalami tekanan setelah data menunjukkan penurunan Indeks Harga Konsumen (CPI) nasional mencapai titik terendah sejak Maret 2022, yang mengurangi harapan untuk pengetatan kebijakan segera oleh Bank of Japan. Selain itu, kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi akibat perang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Jepang semakin membebani yen, yang menjadi pemicu bagi pasangan GBP/JPY. Meskipun demikian, kabar tentang kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang untuk menstabilkan nilai tukar mata uang nasional membuat para pelaku pasar enggan untuk mengambil posisi beli yang agresif, sehingga membatasi kemungkinan kenaikan lebih lanjut.
Walaupun demikian, faktor fundamental masih lebih mendukung pembeli dan memberikan prospek bagi kelanjutan reli GBP/JPY dari area dukungan Simple Moving Average (SMA) 100 hari di sekitar 207,15 yang terlihat pada bulan Februari. Di sisi lain, juga disarankan untuk menunggu terjadinya konsolidasi di atas 213,00 sebelum membuka posisi untuk kelanjutan kenaikan. Selain itu, indikator osilator pada grafik harian masih menunjukkan sinyal positif.