Konflik bersenjata di Iran, yang memicu gangguan besar terhadap pasokan hidrokarbon dari Timur Tengah dan reli cepat harga energi, telah menghantam stabilitas ekonomi negara‑negara Barat. Menurut laporan analitis Financial Times, salah satu konsekuensi negatif utama dari krisis energi yang berlangsung adalah perlambatan tajam pertumbuhan pendapatan riil rumah tangga di negara‑negara maju. Meski inflasi meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar, daya beli rumah tangga menurun, pada praktiknya menghapus dua tahun pemulihan pendapatan bertahap setelah guncangan makroekonomi sebelumnya.
Pertumbuhan upah di Amerika Serikat secara resmi tertinggal di belakang laju inflasi konsumen: kenaikan gaji rata‑rata 3,6% versus lonjakan inflasi 3,8%. Tren negatif serupa tercatat di Inggris, di mana pertumbuhan pendapatan riil rumah tangga pada kuartal I nyaris mendekati nol. Negara‑negara zona euro juga menghadapi risiko resesi berkepanjangan setelah mengalami kekurangan minyak dan gas alam cair (LNG) akibat terblokirnya jalur pelayaran di Teluk Persia, yang mempertanyakan pemulihan standar hidup warga Eropa pasca‑2022.
Para pakar memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap terisolasi, pasar energi global hampir pasti akan menghadapi gelombang destabilisasi baru musim panas mendatang. Paul Diggle, chief economist di manajer aset Aberdeen, mencatat bahwa kenaikan musiman permintaan bahan bakar selama musim liburan akan semakin membebani rantai pasokan Timur Tengah yang terganggu. Ketidakseimbangan yang memburuk antara penawaran dan permintaan di pasar global berpotensi mendorong harga Brent crude menuju level mengejutkan sebesar $180 per barel, yang akan semakin memicu inflasi pada ekonomi negara maju.