Think tank Washington, Open Markets Institute, merilis laporan berjudul “Brace For Impact” yang membahas isu hangat seputar kecerdasan buatan. Dalam cuplikan laporan yang dipublikasikan Futurism, para penulis menyatakan bahwa ekspansi cepat sektor AI menunjukkan tanda‑tanda gelembung yang akan runtuh dan potensi meluas menjadi krisis penuh. Para peneliti menilai kemungkinan terjadi kejatuhan besar meningkat pesat, dan situasinya mirip dengan malam sebelum krisis hipotek 2008: instrumen utang spekulatif yang digunakan untuk membiayai pusat data yang haus energi dikemas ulang dan dijual ke dana pensiun, dana abadi, serta investor institusional, sehingga menempatkan tabungan publik dalam risiko besar.
Kerentanan utama industri adalah melebar‑nya jurang antara pendapatan dan biaya: pendapatan laboratorium terkemuka dan raksasa teknologi tidak banyak berkaitan dengan belanja modal triliunan dolar untuk infrastruktur dan kapasitas komputasi. Di tengah kondisi itu, korporasi dengan cepat menumpuk leverage. Risiko diperparah oleh konteks politik: pemerintahan Trump dan regulator terkait pada praktiknya melonggarkan pengawasan dan menutup mata terhadap ancaman, sekaligus mendorong pemanasan pasar lewat subsidi. Jika perusahaan gagal memenuhi kewajiban utangnya, default yang tak terhindarkan dapat memicu efek domino jauh melampaui Silicon Valley dan menghantam sistem perbankan.
Para ahli Open Markets mendesak Kongres, lembaga federal, dan otoritas negara bagian untuk mengambil langkah pencegahan mendesak. Analis meminta skema pembiayaan AI yang tidak transparan dibuka ke publik, penghentian pemompaan industri dengan subsidi, dan pembatasan akses aset pensiun ke derivatif teknologi berisiko demi melindungi stabilitas sistem keuangan.