Para analis yakin bahwa rally tersebut terjadi karena adanya asumsi bahwa bank sentral akan memperkuat pasar jika data statistik memburuk. Sementara itu, bank sentral menurunkan posisi saham AS dan meningkatkan cadangan moneter.
Menurut Birinyi Associates, S&P 500 kini trading 23 kali lipat net profit perusahaan selama 12 bulan terakhir, yaitu di atas rata-rata 15,5. Sementara itu, pendapatan perusahaan turun 0,6%, dan penerimaan turun 3,3%/
Analis di Goldman Sachs memperkirakan S&P 500 akan turun 4% dari level saat ini di akhir tahun. Oleh karena itu, nilai indikator akan turun sekitar 2,9% di 2015.
Para ahli mengatakan bahwa perkiraan tersebut berdasarkan pada prospek kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve yang akan membuat uang pinjaman lebih mahal dan mempertahankan kenaikan pasar saham.
Namun, tidak semua orang mengantisipasi pasar saham AS akan melemah. Beberapa pihak memperkirakan saham AS akan naik di triwulan akhir tahun ini, sementara yang lainnya memperkirakan ekonomi global akan pulih di tahun depan dan akan mendorong pertumbuhan pasar.
Namun, dunia masih bisa optimis karena bank-bank sentral dunia masih bertekad untuk mempertahankan suku bunga di level rendah yang dapat berdampak positif terhadap pasar saham.