Tiongkok yang dianggap sebagai sekutu Rusia, kini secara bertahap menurunkan pasokan minyak mentah dari Rusia. Ini adalah waktu yang paling tidak diinginkan untuk Tiongkok bergantung pada ekspor sumber daya energi. Dibalik pernyataan kuat mengenai hubungan pertemanan yang abadi antara Rusia dan Tiongkok, ada hubungan yang rumit dan tidak menguntungkan. Tiongkok berupaya memperdalam hubungan dengan Siberia secara bertahap dan Rusia mengalokasikan tanah kepada Tiongkok agar dapat melanjutkan kerja sama dengan negara tersebut. Proyek The Power of Siberia belum lama ini disebut sebagai proyek terbesar dalam sejarah industri minyak dan gas meski sebutan itu hanya tertera di atas kertas. Tiongkok secara drastis menurunkan impor emas hitam dari Rusia. Perlu dicatat bahwa Tiongkok adalah negara pengimpor minyak terbesar di dunia, sehingga penurunan terkecil dalam permintaan Tiongkok menjadi permasalahan serius. Jatuhnya harga minyak dunia dan semakin terpinggirkannya gas Rusia dapat menghasilkan akibat buruk bagi Rusia karena pendapatan dari ekspor minyak dan gas berkontribusi besar terhadap anggaran. Namun, meski berteman dekat, Tiongkok lebih memilih produsen minyak asal Arab Saudi. Beberapa bulan sebelumnya, pengiriman minyak dari Arab Saudi naik 0,8% dan mencapai hampir 4 juta ton. Rusia mengimpor 3,41 juta ton minyak mentah, lebih rendah 16% dari impor Arab Saudi. Bahkan Angola mampu meningkatkan volume impor sebesar 27% menjadi 3,64 juta ton.