Menurut perusahaan Baker Hughes, jumlah alat pengebor minyak turun selama 13 minggu berturut-turut dan mencapai level terendah sejak Mei 2010, turun 10 unit menjadi 545.
Sementara itu, harga minyak mentah turun sesuai dengan jumlah alat pengebor minyak, dimana hal ini memaksa para produsen minyak untuk menahan produksi. Namun, produksi tidak turun.
Sebagai contoh, data terbaru dari Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan bahwa produksi minyak di AS mencapai level tertinggi sejak 28 Agustus. Namun, harga minyak terus turun.
Pada hari Jumat, harga minyak kembali turun. Menjelang rapat OPEC, Bloomberg merilis sebuah artikel yang mengatakan bahwa OPEC memutuskan untuk menaikkan batas atas produksi 1,5 juta barel per hari. Terkait rilisnya berita tersebut, kontrak berjangka mulai turun drastis, namun pada kenyataannya para anggota OPEC menunda keputusan sampai tahun depan. Pernyataan resmi rapat OPEC tidak menyebut mengenai kenaikan batas atas produksi minyak 1,5 juta barel per hari dari 30 menjadi 31,5 juta barel per hari.
Namun, harga minyak gagal untuk kembali naik dan terus turun di hari Senin.
Oleh karena itu, para ahli cenderung berpendapat bahwa AS sengaja membuat harga tetap di level rendah. Jelas terlihat bahwa fluktuasi tajam di pasar terjadi karena laporan kantor berita AS yang berlainan. Masih belum jelas bagaimana AS mampu mempertahankan produksi dengan menurunnya jumlah alat pengebor minyak. Beberapa ahli meyakini bahwa banyak perusahaan shale yang membatasi harga minyak untuk tiga tahun ke depan, dan jatuhnya harga minyak tidak akan mempengaruhi bisnis mereka.