Beberapa pembuat kebijakan punya keunikan dan keterampilan untuk dapat memengaruhi nilai tukat mata uang negara masing-masing. Pengaruhnya bahkan cukup besar apabila kepala negaranya ikut menyampaikan pendapat lewat intervensi.
Baru-baru ini Kanselir Jerman Angela Merkel mengeluhkanmengenai nilai mata uang tunggal yang melemah saat ia berbicara mengenai kebijakan moneter Bank Sentral Eropa. Merkel mengatakan bahwa nilai tukar euro yang rendah dapat berpengaruh pada menurunnya harga produk ekspor Jerman. Ia berkomentar mengenai hal tersebut karena saat ini nilai euro melambung tinhhi mencapai level tertinggi selama 6 bulan. Selain itu ia juga menyinggung mengenai kondisi pasar minyak. Ia mengatakan bahwa harga minyak yang rendah berimbas pada menurunnya biaya impor barang ke Jerman dan mengurangi surplus perdagangan. "Apabila harga minyak 50% lebih mahal, maka produk impor yang masuk ke Jerman akan masuk lebih banyak," sang kanserlir menjelaskan. Walaupun begitu, ucapannya tidak begitu berpengaruh kepada harga minyak dunia, namun lebih kepada nilai tukar mata uang euro.
Pada saat yang sama, ternyata Presiden AS Donald Trump juga telah mendukung mata uang tunggal Eropa. Banyaknya ketidakpastian keputusan politik Trump telah menempatkan dolar di bawah tekanan. Perlu diingat bahwa guncangan politik di Amerika Serikat mungkin belum hilang dalam waktu dekat dan dolar masih berpeluang untuk kembali jatuh.