Menurut Bloomberg, setelah berkonflik dengan anak perusahaan milik Jack Ma, Ant Group, pemerintah China memilih korban baru, yaitu Tencent. Raksasa teknologi China tersebut semakin mendapatkan tekanan dari regulator yang khawatir akan pengaruhnya yang terus tumbuh. Badan pengawas China belum lama ini mengenakan denda kepada perusahaan karena melanggar undang-undang antitrust.
Pemerintah mengambil tindakan keras kepada perusahaan karena pembelian Yuanfudao, layanan pendidikan daring, Reuters mengatakan. Denda mencapai hingga $77.000 dan menyebabkan saham perusahaan turun tajam pada 12 Maret. Saham Tencent merosot 4,5% dengan kapitalisasinya jatuh ke $810 miliar. Para analis di Bloomberg percaya bahwa setelah berurusan dengan Jack Ma, pemerintah China kini memperketat cengkramannya pada Tencent. Khususnya, investigasi juga menunjukkan beberapa permasalahan dengan struktur perusahaan. Oleh karena itu, Tencent wajib membentuk perusahaan induk terpisah untuk mencakup layanan perbankan, asuransi dan pembayaran. Tidak heran jika mulai sekarang, aktivitas perusahaan akan diawasi lebih ketat oleh pemerintah.
Konflik antara pemerintah China dan Ant Group dimulai pada November 2020. Pemerintah China melarang perusahaan memasuki IPO karena penyelidikan menunjukkan kemungkinan adanya penerima manfaat. Di antara penerima manfaat adalah warga yang diduga menjadi lawan politik dari Presiden Xi. Pada Februari 2021, Ant Group dan regulator China menyepakati rencana restrukturisasi yang akan mentransformasi perusahaan menjadi perusahaan induk keuangan.
Pada Maret tahun ini, otoritas antitrust China akan memberlakukan denda terbesar dalam sejarah negara pada Alibaba sebesar $975 juta. Perusahaan dituduh menggunakan skema penipuan terhadap lawan-lawannya.