Beberapa analis menduga bahwa AS dapat menghadapi spiral inflasi karena masalah yang belum terselesaikan, terutama lonjakan inflasi.
Sebagian besar ahli meyakini bahwa Federal Reserve tidak mampu mengatasi masalah yang ada. Karena tidak mampu meredam inflasi yang meroket, regulator tidak memiliki cara untuk meningkatkan kepercayaan pada perekonomian AS. Alasan utamanya adalah bahwa Fed gagal mempertahankan inflasi pada tingkat rendah yang stabil. Dengan kata lain, telah kehilangan kendali atas situasi.
Fed memiliki spektrum instrumen keuangan yang luas yang dapat membatasi inflasi, namun tidak menerapkannya dengan cara yang tepat. Dengan latar belakang tersebut, perekonomian AS telah overheat. Beberapa ekonom meyakini bahwa inflasi telah mencapai puncaknya, sedangkan level yang ditargetkan yaitu 2% masih belum tercapai. Pada Maret 2022, harga konsumen AS mencapai 8,5%, lebih tinggi dari tahun lalu. Dengan demikian, inflasi telah menyentuh level tertinggi yang terakhir terlihat 40 tahun lalu.
Namun, rekor laju pertumbuhan inflasi tercatat tidak hanya di AS tetapi juga di zona Euro. Di sana, harga konsumen melonjak 7,5%, sementara Inggris melaporkan lonjakan 7%. Kenaikan CPI Eropa disebabkan oleh harga sumber daya energi yang naik. Sanksi terhadap Rusia yang diberlakukan di tengah konflik Rusia-Ukraina hanya memperkeruh suasana.
Di AS, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga energi serta kenaikan harga makanan, rumah, dan mobil baru. Sementara itu, harga pangan semakin naik dengan latar belakang masalah pasokan pupuk. Pasar AS juga dilanda gangguan rantai pasokan global.
Tingkat pengangguran yang rendah dan kenaikan upah adalah penyebab lainnya atas kenaikan inflasi. Kondisi seperti itu terjadi selama pandemi ketika otoritas AS memompa perekonomian dengan uang.
Untuk menstabilkan situasi saat ini, Federal Reserve harus secara agresif memperketat kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan dan mengurangi volume pembelian obligasi. Beginilah cara regulator berusaha membatasi jumlah uang beredar dan belanja konsumen.
Namun demikian, tingkat inflasi yang ditargetkan AS masih di angka 2% per tahun. Beberapa analis berpikir bahwa regulator melakukan segala daya untuk mencapai level ini. Estimasi terbaru mengungkapkan bahwa inflasi baru dapat kembali ke 2% pada tahun 2024. Selain itu, resesi ekonomi yang diantisipasi pada tahun 2023 hampir tidak akan mempengaruhi harga saat ini. Untuk mencapai level inflasi yang ditargetkan, regulator akan menaikkan suku bunga utama menjadi 2,5% pada akhir tahun 2022.
Sementara itu, beberapa ahli berpendapat bahwa regulator harus mengambil beberapa langkah tambahan untuk mengatasi lonjakan inflasi. Misalnya, menyeimbangkan kembali ekonomi, sehingga meningkatkan harga di tengah pengeluaran perusahaan yang lebih besar.
Saat ini, sebagian besar negara sedang memerangi laju inflasi. Namun, tren mengkhawatirkan dalam perekonomian AS berdampak negatif pada negara-negara lain, yang harus membeli barang-barang AS yang jauh lebih mahal. Oleh karena itu, kenaikan harga impor merupakan pedang bermata dua, yang membuat AS dan negara lain menderita.