Para analis di Office for National Statistics menyatakan bahwa perekonomian Inggris berhasil menghindari resesi pada kuartal keempat 2022.
Produk domestik bruto kuartal terakhir tahun 2022 mendatar, setelah turun sebanyak 0,2% pada kuartal ketiga. Ini cukup bagi ekonomi Inggris untuk menghindari awal resesi. Terlebih, sinyal utama resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.
Pada tahun 2022, ekonomi Inggris tumbuh sebesar 4%, turun dari pertumbuhan sebesar 7,6% pada tahun sebelumnya. Menurut para pakar ONS, aktivitas ekonomi terpukul keras oleh gelombang pemogokan dan protes yang melanda negara tersebut akibat tingginya harga energi.
Para analis di bank investasi JPMorgan yakin bahwa tahun ini Inggris akan mengalami resesi. Namun, penurunan ini cenderung ringan. Sebelumnya, para pakar memperkirakan produk domestik bruto negara tersebut turun sebesar 0,3%. Belakangan, JPMorgan menaikkan prakiraannya menjadi penurunan sebesar 0,1%.
Revisi prospek tersebut mencerminkan penurunan harga gas alam cair dan kemungkinan bahwa pemerintah Inggris tidak akan menaikkan tagihan listrik April untuk rumah tangga.