Brunei mengalami peningkatan surplus perdagangan menjadi BND 516,9 juta pada Januari 2025, naik dari BND 463,1 juta pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Ini menandai surplus tertinggi sejak Maret 2024, yang sebagian besar didorong oleh penurunan impor yang lebih signifikan dibandingkan ekspor. Impor menurun sebesar 16,7% secara tahunan, mencapai titik terendah dalam tiga bulan sebesar BND 712,6 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pengurangan pembelian bahan bakar mineral (turun 3,2%), barang manufaktur (turun 73,7%), dan mesin serta peralatan transportasi (turun 17,8%). Sebagian besar impor Brunei bersumber dari Uni Emirat Arab, yang menyumbang 30,1% dari total, diikuti oleh Malaysia sebesar 27,4%, China sebesar 12,1%, dan Australia sebesar 9,9%.
Di sisi ekspor, pengiriman turun sebesar 6,8%, dengan total BND 1.229,5 juta, terutama disebabkan oleh penurunan bahan bakar mineral (turun 4,7%) dan bahan kimia (turun 4,2%). Tujuan ekspor terbesar adalah Australia (22,0%), Jepang (17,2%), China (15,8%), Singapura (11,7%), Malaysia (8,6%), dan Indonesia (6,0%). Sepanjang tahun 2024, surplus perdagangan Brunei meningkat menjadi BND 5.295,8 juta dari BND 4.758,2 juta pada tahun sebelumnya, karena ekspor naik sebesar 1,9% sementara impor menurun sebesar 2,6%.