Ekspor Jepang naik 4,2% secara tahunan menjadi JPY 9.571,6 miliar pada Februari 2026, melambat tajam dari lonjakan 16,8% yang tercatat pada Januari dan merupakan ekspansi terlemah sejak Oktober. Perlambatan ini mencerminkan pelemahan permintaan dari China dan AS. Meski demikian, ekspor meningkat untuk bulan keenam berturut-turut dan dengan nyaman melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 1,6%.
Berdasarkan destinasi, pengiriman meningkat secara mencolok ke Hong Kong (32,3%), Taiwan (6,2%), negara-negara ASEAN (5,1%), Uni Eropa (14,0%), India (22,4%), Australia (8,5%), Rusia (65,9%), dan Timur Tengah (27,1%). Sebaliknya, ekspor ke China turun 10,9%, sementara ke Korea Selatan turun 2,5%.
Ekspor ke Amerika Serikat juga melemah, turun 8,0% setelah penurunan 5,1% pada Januari, seiring penurunan penjualan mobil, suku cadang mobil, dan farmasi. Pelemahan ini menyoroti dampak hambatan dari tarif Presiden Trump atas berbagai jenis barang Jepang.
Para ekonom memperkirakan pemulihan ekspor akan tetap lesu, mengingat melambatnya aktivitas global. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan naiknya harga minyak dipandang sebagai risiko tambahan bagi sektor eksternal Jepang.