Kontrak berjangka nikel diperdagangkan di kisaran $17.100, sedikit di bawah level tertinggi terbaru sekitar $17.350, seiring pasar terus bergulat dengan kondisi ketat yang bersifat struktural. Pasokan tetap tertekan, dengan Indonesia tetap melanjutkan rencana penerapan bea ekspor nikel dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz yang menambah tekanan logistik pada aliran bahan baku utama.
Di sisi korporasi, Vale Base Metals melaporkan kenaikan 13% dalam cadangan dan sumber daya nikelnya pada 2025, yang memperkuat prospek pasokan jangka menengah. Pada saat yang sama, inisiatif regional seperti IndoPhil Nickel Corridor bertujuan membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi dan tangguh.
Fundamental permintaan tetap kuat, didukung oleh peningkatan penggunaan dalam baterai kendaraan listrik, penyimpanan energi terbarukan, dan berbagai aplikasi industri lainnya. China terus menyerap porsi besar ekspor, sementara diversifikasi di seluruh Asia menegaskan peran strategis nikel yang kian penting dalam pasar mineral kritis global.