Nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp17.850 per dolar AS pada hari Jumat, melemah dari sekitar Rp17.700 pada sesi sebelumnya, seiring indeks dolar AS bergerak di dekat level terkuatnya sejak Mei 2025 di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve akhir tahun ini. Sentimen juga tertekan oleh kehati-hatian menjelang tinjauan MSCI pekan depan terkait kemungkinan penurunan peringkat Indonesia menjadi pasar frontier, sebuah langkah yang berpotensi memicu kembali arus keluar modal. Pada saat yang sama, kekhawatiran fiskal tetap berlanjut meskipun pemerintah memutuskan untuk memotong pendanaan untuk program unggulan Free Meal Program dan menangguhkannya selama libur sekolah.
Kendati demikian, rupiah masih menguat sekitar 0,6% secara mingguan dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut, ditopang oleh kebijakan hawkish Bank Indonesia yang telah menghasilkan kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei. Sebagai upaya lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar, bank sentral memperketat regulasi valuta asing, menurunkan ambang batas dokumentasi untuk transfer ke luar negeri menjadi 25.000 dolar AS dari 50.000 dolar AS dan menurunkan batas maksimum pembelian tunai valuta asing menjadi 10.000 dolar AS dari 25.000 dolar AS, yang mulai berlaku pada 1 Juli.