Aktivitas bisnis di AS mendekati level tertinggi dalam lima tahun terakhir, tetapi kebangkitan ekonomi ini harus dibayar dengan inflasi yang mencapai rekor tertinggi. Berdasarkan estimasi awal, data S&P Global menunjukkan *composite purchasing managers’ index* (PMI) berada di angka 57,6 pada bulan Oktober—hanya sedikit di bawah angka 58,4 pada bulan September—dan berada jauh di atas ambang batas pertumbuhan sebesar 50 poin.
PMI sektor manufaktur naik ke angka 56,0, melampaui perkiraan, sementara PMI sektor jasa tercatat sebesar 57,9. Chris Williamson, kepala ekonom di S&P Global Market Intelligence, menyatakan bahwa jika tidak menghitung lonjakan tidak wajar pasca-Covid, ekonomi saat ini sedang mengalami periode terkuatnya sejak awal 2015. Tingkat output saat ini mengisyaratkan pertumbuhan PDB tahunan sekitar 5%. Perusahaan-perusahaan melakukan perekrutan secara agresif dan melaporkan pertumbuhan pendapatan yang memecahkan rekor.
Sisi negatif dari lonjakan ini adalah kenaikan harga konsumen yang sangat cepat. Perusahaan-perusahaan membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan dengan laju paling agresif sejak tahun 2022. Harga minyak yang mahal—yang melonjak setelah eskalasi konflik Iran pada bulan Februari—tetap menjadi pendorong utama inflasi. Rekor harga bahan bakar, baik bensin maupun diesel, telah melemahkan sentimen rumah tangga. Indeks sentimen konsumen dari University of Michigan anjlok jauh di bawah level sebelum perang, dengan semakin banyaknya warga Amerika yang melaporkan bahwa barang-barang kebutuhan pokok kini menjadi tidak terjangkau.
Situasi ini menyisakan sedikit pilihan bagi Federal Reserve (The Fed). Para analis memperkirakan bank sentral tersebut akan mengambil jeda taktis setelah kenaikan suku bunga pada bulan September. Namun, mereka menilai The Fed kemungkinan perlu kembali menaikkan biaya pinjaman pada bulan Desember untuk meredam kenaikan harga.
FX.co ★ PMI AS mengisyaratkan pertumbuhan PDB sebesar 5%, namun lonjakan inflasi memperburuk kondisi konsumen
Humor Forex:::